Turunkan Risiko Kematian Anak Akibat Leukemia dengan Deteksi Dini

Turunkan Risiko Kematian Anak Akibat Leukemia dengan Deteksi Dini

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut insiden leukemia menempati angka 15,7 persen di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Data Global Burden of Cancer (GLOBOCAN) pada tahun 2018 memperkirakan kasus baru leukemia di Indonesia pada anak laki-laki berumur 0-19 tahun sekitar 33,5 persen dan anak perempuan 31 persen dari semua jenis kanker pada anak.

Deteksi dini leukemia dan kanker lain pada anak pun sangat penting untuk mengurangi risiko kematian apabila ditemukan pada stadium dini.

“Kanker dapat disembuhkan atau dikurangi risiko kematiannya bila ditemukan pada stadium dini dan ditangani dengan cepat dan tepat,” kata spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi medik dari Universitas Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) itu berpendapat deteksi dini kanker perlu menjadi perhatian serius seluruh unsur masyarakat, terlebih karena pengobatan kanker pada stadium lanjut amat mahal dan sulit.

Ketua Bidang III Pendidikan dan Penyuluhan YKI, dr. Yurni Satria, M.Phil, MHA mengatakan gejala leukemia pada anak cenderung sangat samar dan menyerupai gejala penyakit ringan biasa. Menurutnya, pemahaman yang lebih baik mengenai ciri awal leukemia pada anak diperlukan agar kanker bisa segera ditangani dan diobati, bahkan mungkin disembuhkan.

Data American Childhood Cancer Organization memperlihatkan prognosis 5 tahunan dari leukemia pada anak berada pada kisaran di atas 85 persen pada jenis leukemia akut dan mencapai 60 persen pada kasus leukemia kronis. Prognosis 5 tahunan berarti pasien diasumsikan dapat bertahan hidup lebih dari 5 tahun. Pada stadium 1 prognosis umumnya bisa mencapai angka di atas 90 persen.

“Hanya disayangkan, angka temuan kasus leukemia anak cenderung terjadi pada kasus stadium lanjut. Hanya kisaran 5-10 persen saja kasus leukemia stadium 1 dapat ditemukan karena ciri awal leukemia pada anak ini cenderung ringan dan samar,” tutur Yurni.

Dia mengatakan deteksi dini leukemia bisa dilakukan pada fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas yang memiliki laboratorium standar dan bisa memeriksa darah rutin dan ada tenaga analis. Hampir semua puskesmas, terutama di tingkat kecamatan, memiliki fasilitas ini.

Adapun gejala-gejala leukemia yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi, pucat, nyeri tulang, perdarahan kulit menjadi kebiru-biruan, lebam, perdarahan abnormal seperti mimisan di gusi. Tanda lain yakni nafsu makan menurun, berat badan turun, ada benjolan pada leher, ketiak, selangkangan tanpa nyeri, lemah, dan cepat lelah.

“Jika menemukan kondisi anak seperti gejala tersebut, segeralah memeriksakan ke fasilitas kesehatan,” saran Yurni.

Kemudian, apabila munculnya gejala dibarengi pembesaran hati dan limpa, maka pasien harus segera menjalani pemeriksaan darah. Jika dokter menemukan sel-sel darah putih muda atau sel blast, maka pasien harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

Indah ZakiaIringilah hidup dan usahamu dengan ujud doa yang tulus. Mintalah semua keinginanmu kepada Sang Khalik seakan esok kamu akan mendapatkannya.

Posting Komentar untuk "Turunkan Risiko Kematian Anak Akibat Leukemia dengan Deteksi Dini"

Silakan tinggalkan komentar. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *